Selamat Datang

SELAMAT DATANG DI BLOGNYA EKO SUPRIYADI. . MARI SILAHKAN . . .

Jumat, 13 April 2012

Satu Abad Sultan HamengkuBuwana IX


Tanggal 12 April 2012, tepat 1 Abad Sri Sultan Hamengkubuwana, kota Yogyakarta menyelenggarakan rangkaian kegiatan dalam rangka mengenang 1 Abad Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Rangkaian kegiatan tersebut dilangsungkan selama lima hari pada tanggal 11, 12, 14, 21, dan 22 April 2012. Mulai dari ziarah ke makam Sri Sultan HB IX, pentas seni tradisional, kirab budaya, orasi budayawan, sampai konser musik solidaritas meramaikan rangkaian acara tersebut. Seluruh elemen masyarakat kota Jogja sangat antusias untuk meramaikan acara dalam rangka mengenang kembali perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Melalui berbagai kegiatan ini masyarakat kota Jogja terutama para generasi muda diharapkan bisa meneladani sifat dan sikap Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Lewat kesederhanaan dan kerendahan hati beliau berjuang dengan tulus ikhlas untuk kemajuan bangsa dan negara.

Lahir pada 12 April 1912 di Sompilan, Ngasem, Yogyakarta dengan nama Bendoro Raden Mas Dorodjatun. Beliau merupakan putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Nalar dan imajinasi Jawa mengartikan Dorodjatun adalah harapan agar si bocah kelak sanggup memiliki derajat tinggi, cakap mengemban pangkat, dan berbudi luhur (Kustiniyati Mochtar, 1982). Nama ini mengarah ke ramalan kekuasaan dan ketokohan. Benar saja, selama masa hidupnya, Beliau menjadi pribadi yang sederhana, demokratis, berkarisma, dekat dengan rakyat, dan tidak menyukai kultus individu (pemujaan kepribadian) meskipun statusnya adalah orang besar.

Hamengkubuwana IX dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga". Sejak kecil HB IX sudah keluar kraton untuk menempuh pendidikan dengan Belanda. Kehidupan dengan Belanda membentuk pribadinya mandiri dan cerdas tehadap pengetahuan budaya barat. Meskipun sejak kecil sampai dewasa belajar dari negara barat, namun beliau tetap merasa bahwa dirinya adalah orang Jawa dan tetap ingin bersama rakyat. Selain itu Sultan HB IX juga bertekad 'mengawinkan' budaya Barat dan budaya Timur  tanpa ada yang tersingkirkan. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pemikiran Sultan HB IX atas perkembangan zaman namun tetap dalam identitas orang Jawa. Seperti kutipan yang Beliau sampaikan dalam pidato Jumengengan tanggal 18 Maret 1940 di Siti Hinggil Kraton Ngayogyakarta :

"Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah orang Jawa. Maka selama tak menghambat kemajuan, adat akan tetap menduduki tempat utama dalam Kraton yang kaya akan tradisi ini"

"Sepenuhnya saya menyadari bahwa tugas yang ada di pundak saya adalah sulit dan berat, terlebih-lebih ini menyangkut soal mempertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerjasama dalam suasana yang harmonis, tanpa yang Timur harus kehilangan kepribadiannya"


Dalam perjuangan melawan penjajah, Sultan HB IX adalah sosok nasionalis dan ikut mendorong kemerdekaan Indonesia. Turut berperan dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dan mengundang Presiden untuk menjalankan pemerintahan Republik Indonesia dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda 1. Bahkan Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer Belanda 2. Saat penjajahan Jepang, Sultan melarang pengiriman Romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden juga pernah menyumbangkan dana sebesar 6 juta Gulden kepada Indonesia sebagai modal awal terbentuknya negeri ini. 

Menyandang nama besar dan pangkat serta sebagai pemimpin (Raja) di Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwana IX tetap berperilaku sederhana dan rendah hati. Kesederhanaan Sultan HB IX pun sangat nampak ketika Beliau selalu mengunjungi rakyat-rakyatnya baik yang ada di pasar, desa, atau tempat lainnya. Bahkan Beliau selalu memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk mengutarakan pendapat di alun-alun. Beberapa cerita nyata yang humanis terserak banyak tentang kesederhanaan dan kerendahan hati Sultan HB IX. Diantaranya kisah kecil yang diceritakan oleh wartawati senior, almarhumah Soerastri Karma (SK) Trimurti. Cerita ini tentang pedagang beras di pasar Kranggan yang menyetop dan minta tumpangan jip yang dikendarai oleh Sri Sultan HB IX. Simbok pedagang beras itu tidak mengenali bahwa sopir itu adalah Sultan HB IX, Rajanya. Begitu turun dari mobil sembari menurunkan dagangan berasnya, simbok itu diberitahu polisi, yang baru saja memberikan tumpangan ternyata Sultan HB IX. Simbok bakul beras itu langsung pingsan dan dikerubungi banyak orang.

Kisah lain yang menggambarkan kerendahan hati Sultan HB IX datang dari Pekalongan tahun 1960 an. Saat itu Sri Sultan HB IX dalam perjalanan dari Jogja menuju Tegal mengendarai sendiri mobil sedan hitam tahun limapuluhan. Di persimpangan Soko, Pekalongan secara tidak sengaja mobil sedan itu melanggar peraturan lalu lintas. Polisi berpangkat Brigadir, Royadin menyetop sedan itu dan menilangnya walaupun dia tau bahwa yang ditilang itu Sri Sultan HB IX. Namun begitu, Sri Sultan HB IX tidak menggunakan kekuasaannya untuk bernegosiasi pun mengenalkan dirinya sebagai pejabat negara dan seorang raja. Malah beliau mengakui kesalahannya dan bersedia ditilang mengikuti  prosedur hukum yang berlaku.

Saya sangat terkesan dengan kisah-kisah yang menggambarkan keluasan hati, kesederhanaan, dan kerendahan hati Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Menyandang nama besar, beliau tidak memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi atau pun menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya. Sebagai Raja, beliau tidak sungkan untuk berbaur langsung bersama masyarakatnya. Sungguh orang yang besar! Walaupun saya tidak menyaksikan secara langsung bahkan belum pernah sekalipun melihat langsung Sri Sultan Hamengkubuwana IX (Beliau meninggal 2 Oktober 1988 dan saya belum lahir di dunia). Namun dari berbagai referensi yang saya dapatkan, cukup membuat saya untuk bersikap hormat kepada sosok Sultan HB IX dan bangga menjadi bagian dari masyarakat Ngayogyakarta Hadiningrat.





Sumber ada di sinisitusanasono


Tidak ada komentar:

Posting Komentar